Membaca Peta Kekuatan Politik Pilpres 2019

Tidak terasa sekitar setahun lagi Indonesia akan kembali menyelenggarakan pesta demokrasi Pilpres 2019. Menjelang pemilihan presiden, kita sudah bisa merasakan atmosfer politik di Indonesia sudah mulai memanas. Jika anda memperhatikan pemberitaan media di Indonesia sekarang sudah banyak berita terkait dengan pemilihan yang akan segera berlangsung. Halaman depan media cetak dan online, dihiasai dengan berbagai berita politik.

Bahkan, iklan partai politikpun sudah mulai bisa dilihat meskipun masih jauh dari masa kampanye.Hal ini tentu saja tidak mengherankan mengingat kursi yang diperebutkan adalah kursi persiden Indonesia yang berarti menjadi pemimpin tertinggi sekaligus orang nomor satu di negara ini. Maka banyak partai mencoba memunculkan para tokoh potensial yang bisa menjadi calon presiden dan wakil presiden.

Meski sejauh ini, hanya ada dua nama yang terlihat punya kans untuk menjadi calon presiden. Siapa lagi kalau bukan Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Mengulang Persaingan Jokowi dan Prabowo

Sekarang sudah mulai muncul isu-isu terkait dengan berbagai tokoh yang hendak menjadi calon presiden dan calon wakil presiden. Melihat keadaannya. Kemungkinannya paling tidak Presiden Joko Widodo alias Jokowi akan kembali menjadi calon presiden tahun depan.

Selanjutnya, Prabowo Subianto yang pada tahun pilpres terakhir ikut bersaing dengan Jokowi juga agaknya akan kembali mencalonkan diri. Selain kedua nama itu, ada beberapa nama seperti Anies Baswedan, hary tanoe, dan sebagainya juga sempat disebut sebut akan ikut bersaing pada ajang pesta demokrasi tersebut.

Meskipun banyak nama yang muncul, agaknya baru Jokowi dan Prabowo nama yang cukup kuat akan menjadi calon presiden kembali pada tahun depan. Betapa tidak, popularitas kedua tokoh tersebut masih terbilang tinggi. Hal ini tentu akan tetap dimanfaatkan untuk menjaring kekuran di pilpres tahun depan.

Kekuatan Politik Keduanya

Berbagai survey telah dilakukan terkait Pilpres 2019. Salah satunya dilakukan lembaga survey Poltracking Indonesia. Lembaga survey ini memprediksi persaingan sengit akan kembali terjadi di pilpres tahun 2019 mendatang. Pada survey yang dilakukan Poltracking Indonesia tersebut, kedua nama tokoh tersebut menjadi satu satunya yang memiliki elektabilitas dengan dua digit angka.

Menurut survey yang dilakukan Poltracking Indonesia pada November tahun 2017 kemarin, elektabilitas Jokowi masih unggul dibandingkan dengan Prabowo. Tidak tanggung-tanggung keunggulannya mencapai angka sekitar 20-25 persen. Dimana Prabowo mendapatkan angka 20-33 persen, sedangkan Jokowi mendapatkan angka 45-57 persen.

Melihat Kekuatan Lain

Melihat hasil survey tersebut, peta kekuatan pilpres tahun 2019 mendatang agaknya masih terpusat ke dua tokoh tersebut. Namun bukan berarti tidak ada tokoh lain yang mungkin maju dalam pilpres 2019. Beberapa nama lain, meskipun tidak memiliki elektabilias tokoh yang tinggi masih mungkin untuk muncul dengan dibantu oleh partainya.

Tokoh politik lain yang muncul bisa saja dari nama-nama lama yang memang sudah memiliki reputasi dan kekuatan politik di partainya. Namun, itu juga tidak menutup kemungkinan muncuknya nama-nama baru sebagi kekuatan politik. Nama-nama baru tersebut mungkin saja muncul sebagai wakil dari dua tokoh yang memang sudah kuat tersebut. Misalnya Gatot Nurmantyo dan Tuan Guru Bajang M Zainul Majdi yang mungkin bisa mendampingi Jokowi.

Meskipun begitu, kekuatan lain ini masih sulit jika harus bersaing dengan Jokowi dan Prabowo. Pasalnya kekuatan kedua tokoh ini masih sangat mendominasi. Bahkan, Poltracking Indonesia menilai bahwa jika sampai Prabowo tidak mencalonkan diri, kekuatan Jokowi bisa bertambah hingga 5-6 kali lipat dari saat ini.

 

6 Hal Yang Harus Diwaspadai Masyarakat Selama Masa Pemilihan Presiden

Pemilihan umum (pemilu) akan diadakan sebentar lagi. Isu terkait pemilihan presiden pun sudah mulai menyebar ke masyarakat. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat Indonesia sebagai negara demokrasi dengan pemilihan presiden sebagai pesta demokrasi bagi seluruh lapisan masyarakat.

 

Dalam pemilihan presiden besok, setiap warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih berhak untuk memilih siapa yang akan menjadi persiden Indonesia selanjutnya.Sistem pemilihan presiden  Indonesia menggunakan pemilihan langsung. Artinya, masyarakat memilih secara langsung siapa yang akan menjadi presiden selanjutnya.

 

Setiap warga negara Indonesia yang memilih memiliki nilai suara satu suara. Yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak dan sesuai ketentuan yang berlaku lah yang akan menjadi presiden selanjutnya.

 

Oleh karena itu, sangat penting bagi anda dan semua warga Indonesia untuk ikut memilik. Menjelang pemilihan tersebut, banyak hal yang harus anda waspadai agar anda bisa menentukan pilihan yang terbaik dan sesuai dengan hati nurani anda.

Hal yang Harus Masyarakat Waspadai selama Pemilihan Presiden

  1. Hoaks

Hoaks atau berita/informasi palsu adalah hal yang harus anda waspadai menjelang pemilihan presiden mendatang. Menjelang pemilihan presiden kemungkinan akan banyak muncul hoaks di tengah masyarakat kita. Hoaks tersebut mungkin bisa menjelek-jelekkan tokoh atau calon presiden tertentu.

Untuk menghadapi hoaks ini, masyarakat aharus cerdas dalam menerima dan mengolah informasi yang ada. Jangan asal percaya jika mendapatkan informasi terutama jika informasi tersebut berasal dari media yang tidak jelas. Ketika menerima informasi atau berita, anda bisa mengecek kebenaran berita tersebut dengan melihat sumber lainnya.

  1. Kampanye Hitam

Kampanye hitam mungkin terjadi selama menjelang pemilihan presiden mendatang. Kampanye hitam adalah suatu upaya untuk menghancurkan reputasi seseorang. Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam menerima informasi mengenai seseorang. Bisa saja berita atau isu yang menjelek-jelekkan tokoh atau calon tertentu adalah kampanye hitam agar masyarakat tidak memilih orang tersebut. Padahal, menjelek-jelekan tersebut belum tentu benar.

  1. Politik Uang

Selanjutnya adalah politik uang. Hal ini adalah yang wajib untuk masyarakat kita waspadai. Hal tersebut karena politik uang sangat mencoreng demokrasi negara kita. Jangan mau menerima uang dan diharuskan untuk memilih pihak tertentu. Tentu saja politik uang ini merusak nurani kita dalam pemilihan dan kesejahteraan kita masyarakat Indonesia juga dipertaruhkan.

  1. Golput (Golongan Putih)

Angka golput di Indonesia terbilang besar. Setiap pemilihan, baik pemilihan presiden di tingkat pusat, ataupun pemilihan di tingkat daerah selalu ada saja orang yang tidak memilih alis golput. Golput tidak baik karena partisipasi setiap warga negara diperlukan untuk memilih pemimpin terbaik bagi Indonesia kedepannya.

  1. Sikap Apatis (cuek)

Sikap apatis atau cuek ini harus kita hindari menjelang pemilihan presiden. Hal ini karena untuk memilih pemimpin yang terbaik tentu harus dengan banyak pertimbangan. Agar bisa mempertimbangkan yang terbaik, mulailah dengan mengikuti isu politik dan pribadi tokoh yang akan menjadi calon presiden.

  1. Terprovokasi Pertarungan Sara

Isu sara sangat mungkin untuk dimainkan dalam pemilihan presiden. Hindarilah untuk terpropokasi isu sara karena isu tersebut mungkin hanya untuk memecah belah saja. Biasakan mencari informasi lebih lanjut jika ada isu sensitive terkait sara dan jangan langsung percaya begitu saja.

Itulah hal yang harus diwaspadai menjelang pemilihan presiden. Semoga dengan menghindari hal tersebut, masyarakat Indonesia bisa memilih pemimpin terbaik bagi Indonesia kedepannya.

Tulisan ini adalah independen dan tak memihak manapun juga, dibuat atas kerjasama dengan situs judi bola terbaik di Indonesia – mahabet.org